SHEILA, LUKA HATI SEORANG GADIS KECIL

8:33 PM / Posted by Freadz /

Sebuah Resensi dari buku ONE CHILD, karya Torey Hayden

Penerjemah : Rahmani Astuti, Penyunting : Rika Iffati Farihah, Penerbit : Qanita Mizan, Agustus 2003 475 halaman, 11,5 X 17 cm

Jika anda merupakan penggemar kisah nyata, buku ini dapat menjadi pemuas dahaga anda akan kisah kehidupan yang unik dan menarik. Sheila merupakan kisah nyata seorang guru dalam menghadapi seorang anak dengan latar belakang yang kelam. Sheila –demikian nama anak itu- ternyata memiliki daya tarik yang sulit dipahami Hayden sebagai guru sehingga ia pun menuangkannya dalam catatan pribadi. Catatan tersebut akhirnya dituangkan dalam bentuk buku non fiksi yang memikat.

Dari segi cerita, Sheila sangat menyentuh dan mengandung banyak kejutan yang mengundang rasa haru, duka, geram, gembira serta sedikit kelegaan yang bercampur aduk. Mengingat cerita tersebut kisah nyata, bahkan mampu menimbulkan kengerian dalam hati pembacanya.

Diawali dengan kolom kecil di koran yang menceritakan seorang gadis usia 6 tahun yang menculik, mengikat, lalu membakar anak lelaki usia 3 tahun hingga nyaris tidak terselamatkan. Hayden membuka kisah dengan reaksi emosi spontan yang dilanjutkan dengan rasa ingin tahu akan apa yang akan dihadapi anak itu kelak (h. 6-7).

Dia gadis kecil yang membakar seorang anak laki-laki pada bulan November lalu. Mereka mengeluarkannya dari sekolah dan akan memasukkannya ke rumah sakit negara. Akan tetapi, belum ada unit anak-anak disitu. Jadilah anak itu tinggal di rumahnya selama sebulan dan terlibat berbagai masalah……………(h. 31)

Sebuah awalan yang memunculkan keprihatinan kita sekaligus mengundang rasa ingin tahu tentang apa yang akan terjadi kemudian bila kita harus menghadapi –bahkan menangani- anak tersebut.

Dari segi penokohan, cukup banyak yang terlibat dalam Sheila antara lain; tokoh guru yang dominan yaitu Torey Hayden sebagai sosok yang ‘berjuang’ bersama Sheila sang gadis kecil yang terluka sebagai tokoh utama serta figur ayah yang tidak terlalu dominan. Selain itu diceritakan pula teman-teman Sheila dengan kondisi ‘ketidaknormalan’ yang beragam, serta asisten dan Chad –kekasih Hayden- yang mendukung upaya Hayden dalam memperjuangkan Sheila.

Sebagai tokoh yang menuturkan kisah Sheila, Hayden mampu dengan cermat menuangkan sisi ‘manusiawi’ dari anak-anak prasekolah yang mendapat cap cacat mental secara psikologis, atau bahkan cap ‘gila’ dari masyarakat.

….Untuk setiap langkah maju yang saya ambil untuk mengajarkan sopan santun, saya harus mengambil dua langkah ke belakang………”Menurutmu bagaimana rasanya itu Peter, jika ada orang yang mengatakan bahwa kamu bau?”………”Habis dia bau sekali”…..”Aku akan merasa sedih”……” Aku tidak terlalu suka”…” Kamu bisa memberitahunya diam-diam bahwa dia bau” jawab William “Jadi dia tidak malu”(h. 42-45)

….”Aku takut memikirkan Sheila. Aku takut dia akan mati di rumah sakit. Nenekku dulu masuk rumah sakit dan mati disana”……Tanpa terduga Tyler pun mulai tersedu-sedu “Aku kangen padanya. Aku ingin dia kembali”…..” Kok paman Sheila melakukan itu padanya?”…”Bagaimana kalau dia besar nanti dan punya bayi?”….(hal. 377-387)

Secara sepintas, saat kita membaca kekejaman yang ditampilkan dalam buku ini dapat menimbulkan kegeraman dalam hati kita. Namun dengan gaya Hayden yang mencoba memahami sang tokoh utama dari sisi manusiawi, ia mampu mengaduk-ngaduk perasaan kita bahwa si tokoh ‘jahat’ tidak lain juga merupakan korban keadaan yang membutuhkan bantuan profesional.

Hayden mampu mengungkapkan latarbelakang yang kelam dari tokoh utama, serta rentetan kejadian menyakitkan yang dialaminya. Sekaligus menggambarkan bahwa tingkahlaku agresif dari tokoh utama hanya merupakan bentuk dari reaksi pertahanan diri dari seorang gadis kecil yang lugu. Demikian pula tokoh ayah dan paman yang menganiaya tokoh utama, pada satu saat dipandang Hayden sebagai korban yang tak mampu mengendalikan dirinya secara normal.

Sebagai guru pendidikan luar biasa dan psikolog pendidikan, ia pun mampu menggambarkan konflik batin yang dihadapinya baik sebagai psikolog dengan segala batasan profesi serta posisinya sebagai guru yang secara emosional ingin melindungi murid-muridnya. Secara apik hal tersebut tampak jelas saat Hayden ingin mengungkapkan kejadian penyiksaan seksual yang dialami Sheila pada teman sekelasnya agar dapat membuat mereka lebih berhati-hati.

Akan tetapi untuk kasus Sheila, saya tidak tahu bagaimana menanganinya. Seks dan kekerasan bukanlah topik yang baik untuk anak-anak yang terganggu di usia dini mereka. Namun saya harus mengatakan sesuatu. ……… (h.376).

Secara keseluruhan kisah ini menceritakan suatu kepedihan hidup seorang gadis kecil, suatu kondisi yang memaksanya bertahan hidup dengan kekerasan hatinya dan pemikiran seorang anak yang terbatas. Begitu keras kehidupan yang dijalaninya memaksanya untuk tegar serta mengacaukan kondisi emosionalnya. Disatu sisi ia tampak kejam dengan tindakannya seperti mencungkil mata setiap ikan di akuarium. D sisi lain ia begitu rapuh, hingga tak mampu menghadapi perpisahan dengan gurunya meski hanya dua hari saja.

Sesungguhnya begitu sulit dipercaya bahwa pada kenyataannya terdapat seorang anak usia 6 tahun yang mengalami begitu besar penolakan, pengabaian, bahkan penyiksaan fisik dan seksual oleh keluarganya sendiri. Tapi percayalah, dengan gambaran kondisi lingkungan dan kelas yang hidup, rangkaian konflik yang menyentuh, Hayden mampu menggugah sisi emosional kita yang paling dalam.

Istilah dan kondisi psikologis yang dibahas agak mendalam mungkin dapat menjadi hambatan kecil bagi pembaca dari kalangan awam. Namun bagi anda yang tertarik masalah psikologi, mahasiswa psikologi, atau bahkan psikolog sekalipun, kisah ini dapat mencerahkan pemikiran dan perasaan anda dalam menghadapi suatu kasus psikologis. Namun demikian, satu kesimpulan yang mungkin dapat diterima secara universal adalah pendapat yang diungkapkan oleh Los Angeles Times yang berbunyi “Halaman-demi halaman buku ini memberikan bukti kekuatan cinta dan kesabaran.

Labels: ,

0 comments:

Post a Comment