Diterjemahkan dari THE TIGER’S CHILD, karya Torey Hayden
Penerjemah : Rahmani Astuti, Penyunting : Rika Iffati Farihah, Penerbit : Qanita Mizan, Agustus 2003, 528 halaman, 11,5 X 17 cm
Sheila, Kenangan yang Hilang (Sheila KH) memang merupakan buku kedua dari Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil, namun kita masih bisa asyik membacanya meski tidak membaca buku pertama. Seperti pada buku pertama, Hayden cukup mampu menuangkan catatan –yang kali ini- tentang pertemuannya dengan Sheila tujuh tahun kemudian. Sheila KH merupakan buku yang berdiri sendiri karena didalamnya Hayden juga menyelipkan kilas balik Sheila sebagai gadis kecil yang dulu pernah ditanganinya. Bagi anda yang pernah membaca buku pertama tentu buku ini memenuhi rasa ingin tahu anda akan kelanjutan kehidupan Sheila. Namun bagi anda yang belum sempat membaca buku pertama, buku ini telah mampu menggambarkan sosok Sheila berumur 14 tahun yang bermasalah dengan bayang-bayang dengan masa lalu.
Saat pertama kali membaca, kita langsung disuguhkan dengan pertemuan pertama Hayden dengan Sheila, salah seorang anak didiknya yang begitu istimewa bagi dirinya. Kemudian dirangkai dengan kenangan Hayden akan Sheila pada masa lalu yang sekaligus mengawali kisah Sheila KH ini. Secara umum, kisah ini membuat kita terpana dengan hadirnya sosok anak remaja dengan kecerdasannya yang tinggi namun mempunyai respon emosional yang sulit ditebak. Dengan cerita yang mengalir, kita pun diajak untuk menyelami perasaan Hayden sebagai guru sekaligus menghayati perasaan Sheila yang tampak terganggu akan ingatan tentang masa lalunya.
Sesuai dengan judulnya, cerita ini menggambarkan tentang suatu kenangan yang hilang pada benak seorang remaja. Ia seolah tidak pernah menyadari masa lalunya hingga Hayden sebagai mantan gurunya terus berusaha mengingatkan ‘perjuangan mereka’ bersama sebagai bekal kekuatan melangkah di masa depan. Hayden tidak pernah menyadari bahwa mengingat kenangan tersebut justru mengorek kembali luka lama yang telah mengering bagi Sheila. Konflik inilah yang mewarnai hubungan antara Sheila dan Hayden dan menggiring kita untuk larut dalam kisah yang memikat ini.
Hayden merasa bahwa interaksinya di masa lalu dengan Sheila begitu istimewa dan tak terlupakan. Ia berharap dapat bertemu kembali dengan Sheila dalam kondisi yang lebih baik. Namun ternyata, kenyataan bahwa Sheila menjadi sosok remaja yang mandiri namun berpenampilan urakan mendorongnya untuk memulihkan ingatan Sheila dan kembali berjuang seperti dulu. Sebaliknya Sheila tampak melupakan sebagian besar masa lalunya bahkan cenderung tak ingin mengingatnya. “Sial. Sial. Ini aneh sekali. Aku tidak habis pikir”……”…melihat namaku disini. Rasanya seperti orang lain yang ada disini…..” …. Apakah kelas itu benar-benar seperti itu?….(hal. 122-123). Hal tersebut mau tidak mau membuat Hayden ragu akan langkah yang diambilnya. ….”Kini tiba-tiba saya takut dengan apa yang telah saya lakukan. Itu memang cerita yang menarik, tetapi hanya jika dilihat dari sudut pandang saya” (ha. 123-124).
Dengan indah Hayden pun mampu mengungkapkan sisi emosional Sheila yang sebelumnya tak tersentuh. Konflik dirinya dengan Sheila yang ternyata memendam amarah pada Hayden terrangkai dalam kalimat-kalimat yang mengejutkan namun begitu menyentuh.
….”Yah kamu tahu, kukira kamu juga tidak hebat”……”…kini aku bisa melihat siapa kamu sebenarnya dan kamu marah setiap dua menit sekali”. “Tidak setiap dua menit sekali aku yakin”. Bagiku seperti itu”….”Aku cuma manusia biasa Sheila. Aku bisa jengkel kdang-kadang. Dan menjengkelkan juga”.. (hql. 177-178)
“Kamu pikir, kamu yang memiliki hidupku”….”Jangan berputar-putar Torey. Itulah yang kamu inginkan. Menjadikan dirimu sendiri sebagai orang yang begitu berjasa. Itulah satu-satunya alasanmu kembali”…….
Saat melihat wajahnya, saya tahu bahwa seekor monster telah lepas…..
“Kamu pikir, kamu membuatku hidupku lebih baik bukan?”dia menjerit, suaranya makin lama makin keras……”Tidak. Kamu justru kamu menjadikannya tambah parah”……”Kamu tidak bisa berhenti campur tangan”…..”Kamu menjebakku Torey!”….. (hal. 272-276).
Secara keseluruhan buku ini banyak mengungkapkan perjalanan Sheila dalam membangun dirinya setelah bertemu kembali dengan Hayden. Liku-liku yang dialaminya bersama Hayden, keterlibatannya secara emosional dengan salah satu murid Hayden, serta konflik-konflik yang terjadi secara verbal dengan Hayden serta gambaran tentang reaksi emosionalnya yang tak terduga, membuat buku ini begitu hidup.
Memang sulit dipahami perjalanan hidup sesorang, terutama perjalanan hidup seorang gadis dengan catatan kriminal pada usia 6 tahun. Kita sulit memahami bahwa tindakan seorang guru ternyata berpengaruh sangat besar bagi murid yang mengalami gangguan emosional yang parah. Kita pun akan terkejut dengan kenyataan bahwa ternyata perasaan yang dipendam oleh gadis kecil yang telah ditolong ternyata berbeda dari yang kita bayangkan sebelumnya. Tapi itulah kenyataan hidup yang mampu dituangkan dengan penuh perasaan dalam buku ini. Apapun akhir dari cerita ini, usaha seorang guru dalam membantu muridnya bangkit dari lingkaran trauma jauh lebih bermakna. Lebih jauh dari itu, hubungan sebagai sesama manusia ternyata memang lebih berarti daripada sekedar hubungan terbatas sebagai guru-murid, atau profesional dan kliennya. Jadi, bagi anda yang membutuhkan semangat baru dalam mengatasi permasalahan hidup, tampaknya buku ini bisa membantu anda menemukan pencerahan.
0 comments:
Post a Comment