SYBIL, Kisah Nyata Seorang Gadis Dengan 16 Kepribadian

10:11 PM / Posted by Freadz / comments (1)

Diterjemahkan dari SYBIL, karya Flora Rheta Schreiber

Penerjemah; Sarlito W. Sarwono, Penerbit; Pustaka Sinar Harapan, 2001, 496 hal, 14,5 X 21 cm

Kepribadian adalah sesuatu yang terus dipelajari oleh ahli-ahli ilmu jiwa dan psikologi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering bingung menghadapi seseorang dengan kepribadian tertentu. Bahkan terkadang kita masih juga belum memahami kepribadian kita sendiri, hingga seringkali membutuhkan bantuan orang lain untuk membantu mengembangkan kepribadian kita lebih positif. Lalu bagaimana kalau kita menghadapi satu orang yang sama namun mempunyai 16 kepribadian yang berbeda satu sama lain?. Nah, jawabannya mungkin bisa anda rasakan saat anda membaca buku ini.

Cerita yang berbeda mengenai satu orang yang sama, semakin membingungkan dengan adanya lokasi kejadian, penampilan diri serta reaksi yang sangat jauh berbeda dari keenam belas kepribadian tersebut. Cerita ini memang sulit dipahami, namun sangat menarik untuk dibaca sebagai wawasan kita. Bahwa ternyata memang di luar diri kita begitu banyak hal yang sulit kita hindari dan sulit kita pahami, namun toh tetap mempunyai jalan keluar. Karenanya Sybil sangat berharga untuk dibaca, terutama bagi para dokter, psikiater dan psikolog –demikian menurut penerjemah-.

Sybil dengan 16 kepribadian merupakan kasus menarik yang benar-benar terjadi dan ditangani oleh Dr. Wilbur selama sebelas tahun. Kemudian dituangkan oleh pengarangnya –Flora Reita Schreiber- menjadi sebuah buku berdasarkan catatan psikiater dan wawancaranya terhadap Sybil. Perjalanan hidup Sybil yang mencekam disajikan dalam empat bagian yang terpisah. Dan tentu saja untuk mempermudah kita mengikuti alur cerita yang rumit, kita dibekali dengan silsilah: hirarki dari keenam belas pribadi Sybil.

Kisah diawali dengan keberadaan Sybil dengan bermacam-macam pengalaman yang dialami setiap pribadinya. Menyimak perjalanan Sybil dalam waktu dan tempat yang berbeda tersebut, begitu membingungkan pada awalnya. Namun demikian, setelah terbiasa kita mulai dapat menikmati unik dan menariknya hubungan dan keberadaan antara kepribadian-kepribadian tersebut.

Pada dua bagian selanjutnya, pengarang mengungkapkan latar belakang kehidupan yang dijalani Sybil saat kecil. Bagaimana perlakuan ibunya yang diterima Sybil, bagaimana kondisi keluarga yang menjerat Sybil serta sebab-sebab lain yang tidak menguntungkan Sybil untuk hidup sebagai dirinya sendiri.

Pada bagian ini, kita harus menyiapkan diri membaca sesuatu yang sulit diterima oleh akal sehat dan perasaan kita sebagai manusia. Analisis Dr. Wilbur telah mengungkapkan drama kehidupan Sybil yang sangat memilukan. Kekejaman, upacara-upacara rahasia dan hal-hal yang mengerikan didapatkan Sybil justru dari ibu kandungnya sendiri. Seperti yang diungkapkan Dr. Wilbur : ….akar penyebab perpecahan kepribadian Sybil adalah tema drama yang bersifat penyiksaan-penawanan-pengontrolan-pemenjaraan yang sangat rumit. Satu persatu pintu menuju kebebasan telah tertutup dan buat Sybil, yang telah tersiksa 40 tahun sebelum sindrom siksaan itu diketahui secara medis, tidak ada jalan keluar sama sekali (hal. 214).

Hattie (ibu dari Sybil) dianalisa sebagai penderita Schizophrenia ternyata telah melakukan penyiksaan pada Sybil melalui ‘upacara-upacara ritual yang tertutup’ sejak bayi. Ironisnya, penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh ibu kandung tersebut, dilakukan secara sistematis dan rahasia sehingga tak ada satupun anggota keluarga yang tahu. Rasa sakit luar biasa yang harus diderita Sybil serta keinginannya untuk lari dari penyiksaan tersebut membuat Sybil bertahan hidup dengan menciptakan kepribadian yang berbeda.

Secara awam, memang sangat sulit memahami proses terjadinya perpecahan kepribadian Sybil. Namun sebagai manusia, sangat mudah bagi kita untuk merasakan keinginan lari dari kekejaman yang dialaminya. Satu hal pasti, dari bagian dari buku yang menceritakan penderitaan Sybil tersebut, pengarang mampu dengan baik menunjukkan keinginan yang kuat dari Sybil untuk bertahan hidup menghadapi tekanan dan kekejaman yang dialaminya.

Bagian empat, adalah bagian terakhir dari buku yang menceritakan proses menyatunya kepribadian Sybil menjadi satu kepribadian utuh. Pada bagian ini, diceritakan dengan apik bagaimana jatuh bangunnya Sybil dalam upaya bangkit dari traumanya. Hal tersebut dituangkan dalam bentuk kegiatan ataupun surat yang dibuat Sybil, seperti “Berat sekali rasanya untuk merasakan, mempercayai dan mengakui bahwa saya tidak mempunyai kontrol dalam kesadaran saya terhadap pribadi-pribadi saya. Jauh lebih mengerikan jika mengetahui bahwa ada sesuatu yang di luar kekuasaan kita…….” (hal. 388).

Sebagai cerita non-fiksi, kisah nyata ini begitu mencekam dan mengiris-ngiris hati nurani kita. Bahkan drama penyiksaan yang mendera Sybil pun terlalu keji dan terlalu banyak untuk diungkapkan di sini. Akan sangat sulit bagi kita sebagai pembaca mempercayai bahwa kisah ini memang benar-benar terjadi, terutama saat kita sampai pada bagian kehidupan masa bayi hingga masa remaja Sybil. Pada akhirnya kehidupan Sybil memang mendapatkan akhir yang melegakan, bahkan begitu luar biasa. Bagaimana seseorang dengan penderitaan yang dialaminya sejak bayi mampu bertahan hidup bahkan mendapatkan karir profesionalnya? Terus terang semuanya begitu luar biasa, termasuk kemampuan pengarang untuk menuangkan kisah ini dalam sebuah buku sehingga mampu membuat kita merenung dan mengkaji ulang perjalanan hidup kita.


SHEILA, KENANGAN YANG HILANG

9:45 PM / Posted by Freadz / comments (0)

Diterjemahkan dari THE TIGER’S CHILD, karya Torey Hayden

Penerjemah : Rahmani Astuti, Penyunting : Rika Iffati Farihah, Penerbit : Qanita Mizan, Agustus 2003, 528 halaman, 11,5 X 17 cm

Sheila, Kenangan yang Hilang (Sheila KH) memang merupakan buku kedua dari Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil, namun kita masih bisa asyik membacanya meski tidak membaca buku pertama. Seperti pada buku pertama, Hayden cukup mampu menuangkan catatan –yang kali ini- tentang pertemuannya dengan Sheila tujuh tahun kemudian. Sheila KH merupakan buku yang berdiri sendiri karena didalamnya Hayden juga menyelipkan kilas balik Sheila sebagai gadis kecil yang dulu pernah ditanganinya. Bagi anda yang pernah membaca buku pertama tentu buku ini memenuhi rasa ingin tahu anda akan kelanjutan kehidupan Sheila. Namun bagi anda yang belum sempat membaca buku pertama, buku ini telah mampu menggambarkan sosok Sheila berumur 14 tahun yang bermasalah dengan bayang-bayang dengan masa lalu.

Saat pertama kali membaca, kita langsung disuguhkan dengan pertemuan pertama Hayden dengan Sheila, salah seorang anak didiknya yang begitu istimewa bagi dirinya. Kemudian dirangkai dengan kenangan Hayden akan Sheila pada masa lalu yang sekaligus mengawali kisah Sheila KH ini. Secara umum, kisah ini membuat kita terpana dengan hadirnya sosok anak remaja dengan kecerdasannya yang tinggi namun mempunyai respon emosional yang sulit ditebak. Dengan cerita yang mengalir, kita pun diajak untuk menyelami perasaan Hayden sebagai guru sekaligus menghayati perasaan Sheila yang tampak terganggu akan ingatan tentang masa lalunya.

Sesuai dengan judulnya, cerita ini menggambarkan tentang suatu kenangan yang hilang pada benak seorang remaja. Ia seolah tidak pernah menyadari masa lalunya hingga Hayden sebagai mantan gurunya terus berusaha mengingatkan ‘perjuangan mereka’ bersama sebagai bekal kekuatan melangkah di masa depan. Hayden tidak pernah menyadari bahwa mengingat kenangan tersebut justru mengorek kembali luka lama yang telah mengering bagi Sheila. Konflik inilah yang mewarnai hubungan antara Sheila dan Hayden dan menggiring kita untuk larut dalam kisah yang memikat ini.

Hayden merasa bahwa interaksinya di masa lalu dengan Sheila begitu istimewa dan tak terlupakan. Ia berharap dapat bertemu kembali dengan Sheila dalam kondisi yang lebih baik. Namun ternyata, kenyataan bahwa Sheila menjadi sosok remaja yang mandiri namun berpenampilan urakan mendorongnya untuk memulihkan ingatan Sheila dan kembali berjuang seperti dulu. Sebaliknya Sheila tampak melupakan sebagian besar masa lalunya bahkan cenderung tak ingin mengingatnya. “Sial. Sial. Ini aneh sekali. Aku tidak habis pikir”……”…melihat namaku disini. Rasanya seperti orang lain yang ada disini…..” …. Apakah kelas itu benar-benar seperti itu?….(hal. 122-123). Hal tersebut mau tidak mau membuat Hayden ragu akan langkah yang diambilnya. ….”Kini tiba-tiba saya takut dengan apa yang telah saya lakukan. Itu memang cerita yang menarik, tetapi hanya jika dilihat dari sudut pandang saya” (ha. 123-124).

Dengan indah Hayden pun mampu mengungkapkan sisi emosional Sheila yang sebelumnya tak tersentuh. Konflik dirinya dengan Sheila yang ternyata memendam amarah pada Hayden terrangkai dalam kalimat-kalimat yang mengejutkan namun begitu menyentuh.

….”Yah kamu tahu, kukira kamu juga tidak hebat”……”…kini aku bisa melihat siapa kamu sebenarnya dan kamu marah setiap dua menit sekali”. “Tidak setiap dua menit sekali aku yakin”. Bagiku seperti itu”….”Aku cuma manusia biasa Sheila. Aku bisa jengkel kdang-kadang. Dan menjengkelkan juga”.. (hql. 177-178)

“Kamu pikir, kamu yang memiliki hidupku”….”Jangan berputar-putar Torey. Itulah yang kamu inginkan. Menjadikan dirimu sendiri sebagai orang yang begitu berjasa. Itulah satu-satunya alasanmu kembali”…….

Saat melihat wajahnya, saya tahu bahwa seekor monster telah lepas…..

“Kamu pikir, kamu membuatku hidupku lebih baik bukan?”dia menjerit, suaranya makin lama makin keras……”Tidak. Kamu justru kamu menjadikannya tambah parah”……”Kamu tidak bisa berhenti campur tangan”…..”Kamu menjebakku Torey!”….. (hal. 272-276).

Secara keseluruhan buku ini banyak mengungkapkan perjalanan Sheila dalam membangun dirinya setelah bertemu kembali dengan Hayden. Liku-liku yang dialaminya bersama Hayden, keterlibatannya secara emosional dengan salah satu murid Hayden, serta konflik-konflik yang terjadi secara verbal dengan Hayden serta gambaran tentang reaksi emosionalnya yang tak terduga, membuat buku ini begitu hidup.

Memang sulit dipahami perjalanan hidup sesorang, terutama perjalanan hidup seorang gadis dengan catatan kriminal pada usia 6 tahun. Kita sulit memahami bahwa tindakan seorang guru ternyata berpengaruh sangat besar bagi murid yang mengalami gangguan emosional yang parah. Kita pun akan terkejut dengan kenyataan bahwa ternyata perasaan yang dipendam oleh gadis kecil yang telah ditolong ternyata berbeda dari yang kita bayangkan sebelumnya. Tapi itulah kenyataan hidup yang mampu dituangkan dengan penuh perasaan dalam buku ini. Apapun akhir dari cerita ini, usaha seorang guru dalam membantu muridnya bangkit dari lingkaran trauma jauh lebih bermakna. Lebih jauh dari itu, hubungan sebagai sesama manusia ternyata memang lebih berarti daripada sekedar hubungan terbatas sebagai guru-murid, atau profesional dan kliennya. Jadi, bagi anda yang membutuhkan semangat baru dalam mengatasi permasalahan hidup, tampaknya buku ini bisa membantu anda menemukan pencerahan.

Labels: ,

SHEILA, LUKA HATI SEORANG GADIS KECIL

8:33 PM / Posted by Freadz / comments (0)

Sebuah Resensi dari buku ONE CHILD, karya Torey Hayden

Penerjemah : Rahmani Astuti, Penyunting : Rika Iffati Farihah, Penerbit : Qanita Mizan, Agustus 2003 475 halaman, 11,5 X 17 cm

Jika anda merupakan penggemar kisah nyata, buku ini dapat menjadi pemuas dahaga anda akan kisah kehidupan yang unik dan menarik. Sheila merupakan kisah nyata seorang guru dalam menghadapi seorang anak dengan latar belakang yang kelam. Sheila –demikian nama anak itu- ternyata memiliki daya tarik yang sulit dipahami Hayden sebagai guru sehingga ia pun menuangkannya dalam catatan pribadi. Catatan tersebut akhirnya dituangkan dalam bentuk buku non fiksi yang memikat.

Dari segi cerita, Sheila sangat menyentuh dan mengandung banyak kejutan yang mengundang rasa haru, duka, geram, gembira serta sedikit kelegaan yang bercampur aduk. Mengingat cerita tersebut kisah nyata, bahkan mampu menimbulkan kengerian dalam hati pembacanya.

Diawali dengan kolom kecil di koran yang menceritakan seorang gadis usia 6 tahun yang menculik, mengikat, lalu membakar anak lelaki usia 3 tahun hingga nyaris tidak terselamatkan. Hayden membuka kisah dengan reaksi emosi spontan yang dilanjutkan dengan rasa ingin tahu akan apa yang akan dihadapi anak itu kelak (h. 6-7).

Dia gadis kecil yang membakar seorang anak laki-laki pada bulan November lalu. Mereka mengeluarkannya dari sekolah dan akan memasukkannya ke rumah sakit negara. Akan tetapi, belum ada unit anak-anak disitu. Jadilah anak itu tinggal di rumahnya selama sebulan dan terlibat berbagai masalah……………(h. 31)

Sebuah awalan yang memunculkan keprihatinan kita sekaligus mengundang rasa ingin tahu tentang apa yang akan terjadi kemudian bila kita harus menghadapi –bahkan menangani- anak tersebut.

Dari segi penokohan, cukup banyak yang terlibat dalam Sheila antara lain; tokoh guru yang dominan yaitu Torey Hayden sebagai sosok yang ‘berjuang’ bersama Sheila sang gadis kecil yang terluka sebagai tokoh utama serta figur ayah yang tidak terlalu dominan. Selain itu diceritakan pula teman-teman Sheila dengan kondisi ‘ketidaknormalan’ yang beragam, serta asisten dan Chad –kekasih Hayden- yang mendukung upaya Hayden dalam memperjuangkan Sheila.

Sebagai tokoh yang menuturkan kisah Sheila, Hayden mampu dengan cermat menuangkan sisi ‘manusiawi’ dari anak-anak prasekolah yang mendapat cap cacat mental secara psikologis, atau bahkan cap ‘gila’ dari masyarakat.

….Untuk setiap langkah maju yang saya ambil untuk mengajarkan sopan santun, saya harus mengambil dua langkah ke belakang………”Menurutmu bagaimana rasanya itu Peter, jika ada orang yang mengatakan bahwa kamu bau?”………”Habis dia bau sekali”…..”Aku akan merasa sedih”……” Aku tidak terlalu suka”…” Kamu bisa memberitahunya diam-diam bahwa dia bau” jawab William “Jadi dia tidak malu”(h. 42-45)

….”Aku takut memikirkan Sheila. Aku takut dia akan mati di rumah sakit. Nenekku dulu masuk rumah sakit dan mati disana”……Tanpa terduga Tyler pun mulai tersedu-sedu “Aku kangen padanya. Aku ingin dia kembali”…..” Kok paman Sheila melakukan itu padanya?”…”Bagaimana kalau dia besar nanti dan punya bayi?”….(hal. 377-387)

Secara sepintas, saat kita membaca kekejaman yang ditampilkan dalam buku ini dapat menimbulkan kegeraman dalam hati kita. Namun dengan gaya Hayden yang mencoba memahami sang tokoh utama dari sisi manusiawi, ia mampu mengaduk-ngaduk perasaan kita bahwa si tokoh ‘jahat’ tidak lain juga merupakan korban keadaan yang membutuhkan bantuan profesional.

Hayden mampu mengungkapkan latarbelakang yang kelam dari tokoh utama, serta rentetan kejadian menyakitkan yang dialaminya. Sekaligus menggambarkan bahwa tingkahlaku agresif dari tokoh utama hanya merupakan bentuk dari reaksi pertahanan diri dari seorang gadis kecil yang lugu. Demikian pula tokoh ayah dan paman yang menganiaya tokoh utama, pada satu saat dipandang Hayden sebagai korban yang tak mampu mengendalikan dirinya secara normal.

Sebagai guru pendidikan luar biasa dan psikolog pendidikan, ia pun mampu menggambarkan konflik batin yang dihadapinya baik sebagai psikolog dengan segala batasan profesi serta posisinya sebagai guru yang secara emosional ingin melindungi murid-muridnya. Secara apik hal tersebut tampak jelas saat Hayden ingin mengungkapkan kejadian penyiksaan seksual yang dialami Sheila pada teman sekelasnya agar dapat membuat mereka lebih berhati-hati.

Akan tetapi untuk kasus Sheila, saya tidak tahu bagaimana menanganinya. Seks dan kekerasan bukanlah topik yang baik untuk anak-anak yang terganggu di usia dini mereka. Namun saya harus mengatakan sesuatu. ……… (h.376).

Secara keseluruhan kisah ini menceritakan suatu kepedihan hidup seorang gadis kecil, suatu kondisi yang memaksanya bertahan hidup dengan kekerasan hatinya dan pemikiran seorang anak yang terbatas. Begitu keras kehidupan yang dijalaninya memaksanya untuk tegar serta mengacaukan kondisi emosionalnya. Disatu sisi ia tampak kejam dengan tindakannya seperti mencungkil mata setiap ikan di akuarium. D sisi lain ia begitu rapuh, hingga tak mampu menghadapi perpisahan dengan gurunya meski hanya dua hari saja.

Sesungguhnya begitu sulit dipercaya bahwa pada kenyataannya terdapat seorang anak usia 6 tahun yang mengalami begitu besar penolakan, pengabaian, bahkan penyiksaan fisik dan seksual oleh keluarganya sendiri. Tapi percayalah, dengan gambaran kondisi lingkungan dan kelas yang hidup, rangkaian konflik yang menyentuh, Hayden mampu menggugah sisi emosional kita yang paling dalam.

Istilah dan kondisi psikologis yang dibahas agak mendalam mungkin dapat menjadi hambatan kecil bagi pembaca dari kalangan awam. Namun bagi anda yang tertarik masalah psikologi, mahasiswa psikologi, atau bahkan psikolog sekalipun, kisah ini dapat mencerahkan pemikiran dan perasaan anda dalam menghadapi suatu kasus psikologis. Namun demikian, satu kesimpulan yang mungkin dapat diterima secara universal adalah pendapat yang diungkapkan oleh Los Angeles Times yang berbunyi “Halaman-demi halaman buku ini memberikan bukti kekuatan cinta dan kesabaran.

Labels: ,